Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2026

HPSN 2026: Perubahan Besar Dimulai dari Rumah

Kita menghadapi persoalan lingkungan hidup yang kian kompleks. Sungai-sungai menghitam, kualitas udara  menurun, dan terjadi darurat sampah diberbagai kota. Setiap hari kita mendengar imbauan, membaca data, menyusun rencana aksi, dan merancang berbagai program. Namun di tengah semua itu, ada satu pertanyaan mendasar yang layak kita ajukan dengan jujur: mengapa kerusakan bergerak  cepat, sementara perubahan perilaku berjalan begitu lambat? Realitas ini menegaskan satu hal penting: persoalan lingkungan hidup bukan semata urusan teknis dan administratif. Regulasi bisa dibuat. Anggaran bisa dialokasikan. Infrastruktur bisa dibangun. Tetapi tanpa partisipasi masyarakat yang luas dan konsisten, semua itu akan berjalan pincang. Lingkungan hidup pada akhirnya bertumpu pada kebiasaan, pada keputusan-keputusan kecil yang diambil setiap hari di rumah, di dapur, di halaman, di kantor, pabrik dan di ruang hidup kita sendiri. Kita sering membayangkan perubahan sebagai sesuatu yang besar, mo...

WALAU BUKAN LASKAR PELANGI (KISAH NYATA YANG DITULIS BERSAMBUNG)

Gambar
Bab I Sejak Itu, Langit Tak Lagi Sama Saya masih kelas tiga SMP ketika bapak meninggal. Tidak ada petir yang menyambar lebih dulu. Tidak ada mimpi buruk yang memberi aba-aba. Tidak ada tanda alam yang bisa dibaca anak seusia saya. Pagi itu hanya seperti pagi-pagi biasa—ayam tetap berkokok, kabut tetap turun di punggung bukit, dan embun masih menggantung di ujung daun bambu. Tapi ketika siang menjelang, hidup saya seperti digeser pelan-pelan oleh tangan tak terlihat, lalu dijatuhkan ke jurang yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Sejak hari itu, langit berubah warna. Bukan birunya yang hilang, tapi warnanya kehilangan makna. Sunyi bukan lagi sekadar tidak ada suara. Sunyi menjadi ruang kosong yang berdengung di dada. Seperti berdiri di ladang luas tanpa pohon, tanpa bayang-bayang, tanpa tempat berlindung dari panas. Bapak hanya buruh tani. Kami tidak mewarisi sawah, tidak punya sertifikat tanah, tidak punya simpanan. Harapan bapak hanyalah sebidang tanah garapan di kawasan hutan ya...