Postingan

Pesan Ramadhan BANG KALIANDRA

 Pesan Ramadhan BANG KALIANDRA Akan jadi kesalahpahaman terbesar para pelaku lingkungan hidup, jika mengira perubahan cukup lahir dari sosialisasi dan imbauan semata. BANG KALIANDRA berdiri di jalan berbeda: dengan membangun sistem agar masyarakat bergerak bersama. Karena sejatinya, budaya tidak tumbuh dari kata-kata— tetapi dari apa yang terus dilakukan, hari demi hari, hingga menjadi kebiasaan. Di bulan Ramadhan ini, menjelang Idul Fitri, kita diingatkan: perubahan bukan soal niat yang diucap, tetapi amal yang diulang. Sudahkah kita menanam, walau satu pohon? Sudahkah kita memilah sampah dari rumah sendiri? Sudahkah yang kita kirim ke TPA hanya benar-benar residu? Sudahkah kita mengolah yang organik, dan mendaur ulang yang anorganik? Sudahkah air kita jaga, tanah kita hidupkan, dengan biopori dan langkah sederhana lainnya? Jika belum menjadi kebiasaan, lalu dari mana budaya itu akan lahir? Jangan sampai yang kita wariskan nanti bukan peradaban yang lebih baik, melainkan akumulasi...

Pelatihan yang belum menyatu

  Sepakat, inti masalahnya memang bukan lagi “pelatihan kurang”, tetapi “ekosistem belum menyatu”. Banyak negara sudah lebih dulu membuktikan hal ini. Singapura, misalnya, tidak membangun budaya kerja ASN melalui pelatihan semata, tetapi melalui integrasi sistem yang nyaris tanpa celah. Rekrutmen dilakukan sangat selektif, talenta terbaik sudah diidentifikasi sejak dini. Pembelajaran dikelola secara serius, tetapi tidak pernah berdiri sendiri—ia langsung terhubung dengan penugasan nyata, rotasi jabatan, dan target kinerja yang ketat. Di sana, belajar bukan kegiatan tambahan. Ia adalah bagian dari pekerjaan itu sendiri. Kepemimpinan pun tidak netral: setiap pemimpin dituntut menjadi penggerak pembelajaran, bukan sekadar pengelola rutinitas. Di Jepang, pendekatannya bahkan lebih sunyi, tetapi jauh lebih mengakar. Budaya kerja tidak dibentuk dari ruang kelas, melainkan dari disiplin keseharian yang terus diperbaiki. Filosofi Kaizen hidup dalam praktik, bukan slogan. Perbaikan kecil me...

VISI BARU PEMBANGUNAN LINGKUNGAN HIDUP: MEMBANGUN GERAKAN BERSAMA

 VISI BARU PEMBANGUNAN LINGKUNGAN HIDUP: MEMBANGUN GERAKAN BERSAMA Salah satu tantangan mendasar dalam pembangunan lingkungan hidup adalah cara kita memahami persoalan lingkungan itu sendiri. Dalam praktik kebijakan, masalah lingkungan sering kali dipandang terutama sebagai persoalan teknis, sehingga respons yang muncul biasanya berupa pembangunan infrastruktur, penyusunan regulasi, atau penguatan perangkat administratif. Pendekatan tersebut tentu penting. Namun pengalaman di berbagai tempat menunjukkan bahwa pendekatan teknokratis semata tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan lingkungan secara berkelanjutan. Akar persoalan lingkungan hidup pada dasarnya terletak pada perilaku manusia. Karena itu banyak ilmuwan kebijakan menyebutnya sebagai collective action problem—persoalan yang hanya dapat diselesaikan ketika banyak orang mengubah perilakunya secara bersamaan. Dalam situasi seperti ini, regulasi dan infrastruktur memiliki keterbatasannya sendiri. Tanpa perubahan perilaku sosi...

Dilema Tambang dan Kemampuan Pengelolaan Lingkungannya

Pertambangan selalu berada dalam posisi yang dilematis. Di satu sisi, kegiatan tambang sering dipersepsikan sebagai penyebab kerusakan lingkungan. Bukaan lahan, perubahan bentang alam, sedimentasi sungai, hingga potensi banjir kerap dikaitkan dengan aktivitas ini. Di berbagai daerah, termasuk di Banten, kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Sejumlah aktivitas pertambangan pada masa lalu meninggalkan persoalan lingkungan yang tidak ringan, mulai dari kerusakan bentang alam, perubahan aliran air, hingga konflik dengan masyarakat sekitar. Kesadaran terhadap berbagai persoalan tersebut mendorong Pemerintah Provinsi Banten mengambil langkah yang cukup tegas dengan menerapkan moratorium penerbitan izin tambang baru. Kebijakan ini bukan semata-mata untuk menghentikan aktivitas ekonomi, melainkan sebagai bentuk kehati-hatian pemerintah daerah dalam memahami dampak lingkungan dari kegiatan pertambangan. Moratorium juga dimaksudkan sebagai momentum untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhada...

Paradoks Pembangunan Perilaku dalam Birokrasi

Beberapa waktu lalu kami mengundang sejumlah pihak internal, perangkat daerah, dan akademisi untuk berdiskusi mengenai kemungkinan menggunakan pendekatan sosial dalam upaya mengubah perilaku masyarakat terkait pengelolaan sampah. Undangan rapat disampaikan kepada beberapa OPD yang secara tugas memiliki keterkaitan dengan persoalan ini: unsur penelitian dan perencanaan pembangunan, lingkungan hidup, penegakan ketertiban, serta unsur akademik melalui sebuah lembaga penelitian dari sebuah universitas. Harapannya sederhana. Persoalan sampah di pasar, permukiman, dan ruang publik pada dasarnya bukan semata persoalan teknis pengangkutan atau fasilitas, tetapi juga persoalan perilaku sosial. Karena itu diskusi diarahkan untuk melihat kemungkinan memanfaatkan metode penelitian sosial guna memahami pola perilaku masyarakat: mengapa orang membuang sampah sembarangan, bagaimana norma sosial terbentuk, siapa aktor yang memengaruhi kebiasaan kolektif, dan intervensi apa yang paling efektif untuk me...

HPSN 2026: Perubahan Besar Dimulai dari Rumah

Kita menghadapi persoalan lingkungan hidup yang kian kompleks. Sungai-sungai menghitam, kualitas udara  menurun, dan terjadi darurat sampah diberbagai kota. Setiap hari kita mendengar imbauan, membaca data, menyusun rencana aksi, dan merancang berbagai program. Namun di tengah semua itu, ada satu pertanyaan mendasar yang layak kita ajukan dengan jujur: mengapa kerusakan bergerak  cepat, sementara perubahan perilaku berjalan begitu lambat? Realitas ini menegaskan satu hal penting: persoalan lingkungan hidup bukan semata urusan teknis dan administratif. Regulasi bisa dibuat. Anggaran bisa dialokasikan. Infrastruktur bisa dibangun. Tetapi tanpa partisipasi masyarakat yang luas dan konsisten, semua itu akan berjalan pincang. Lingkungan hidup pada akhirnya bertumpu pada kebiasaan, pada keputusan-keputusan kecil yang diambil setiap hari di rumah, di dapur, di halaman, di kantor, pabrik dan di ruang hidup kita sendiri. Kita sering membayangkan perubahan sebagai sesuatu yang besar, mo...

WALAU BUKAN LASKAR PELANGI (KISAH NYATA YANG DITULIS BERSAMBUNG)

Gambar
Bab I Sejak Itu, Langit Tak Lagi Sama Saya masih kelas tiga SMP ketika bapak meninggal. Tidak ada petir yang menyambar lebih dulu. Tidak ada mimpi buruk yang memberi aba-aba. Tidak ada tanda alam yang bisa dibaca anak seusia saya. Pagi itu hanya seperti pagi-pagi biasa—ayam tetap berkokok, kabut tetap turun di punggung bukit, dan embun masih menggantung di ujung daun bambu. Tapi ketika siang menjelang, hidup saya seperti digeser pelan-pelan oleh tangan tak terlihat, lalu dijatuhkan ke jurang yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Sejak hari itu, langit berubah warna. Bukan birunya yang hilang, tapi warnanya kehilangan makna. Sunyi bukan lagi sekadar tidak ada suara. Sunyi menjadi ruang kosong yang berdengung di dada. Seperti berdiri di ladang luas tanpa pohon, tanpa bayang-bayang, tanpa tempat berlindung dari panas. Bapak hanya buruh tani. Kami tidak mewarisi sawah, tidak punya sertifikat tanah, tidak punya simpanan. Harapan bapak hanyalah sebidang tanah garapan di kawasan hutan ya...