Postingan

HPSN 2026: Perubahan Besar Dimulai dari Rumah

Kita menghadapi persoalan lingkungan hidup yang kian kompleks. Sungai-sungai menghitam, kualitas udara  menurun, dan terjadi darurat sampah diberbagai kota. Setiap hari kita mendengar imbauan, membaca data, menyusun rencana aksi, dan merancang berbagai program. Namun di tengah semua itu, ada satu pertanyaan mendasar yang layak kita ajukan dengan jujur: mengapa kerusakan bergerak  cepat, sementara perubahan perilaku berjalan begitu lambat? Realitas ini menegaskan satu hal penting: persoalan lingkungan hidup bukan semata urusan teknis dan administratif. Regulasi bisa dibuat. Anggaran bisa dialokasikan. Infrastruktur bisa dibangun. Tetapi tanpa partisipasi masyarakat yang luas dan konsisten, semua itu akan berjalan pincang. Lingkungan hidup pada akhirnya bertumpu pada kebiasaan, pada keputusan-keputusan kecil yang diambil setiap hari di rumah, di dapur, di halaman, di kantor, pabrik dan di ruang hidup kita sendiri. Kita sering membayangkan perubahan sebagai sesuatu yang besar, mo...

WALAU BUKAN LASKAR PELANGI (KISAH NYATA YANG DITULIS BERSAMBUNG)

Gambar
Bab I Sejak Itu, Langit Tak Lagi Sama Saya masih kelas tiga SMP ketika bapak meninggal. Tidak ada petir yang menyambar lebih dulu. Tidak ada mimpi buruk yang memberi aba-aba. Tidak ada tanda alam yang bisa dibaca anak seusia saya. Pagi itu hanya seperti pagi-pagi biasa—ayam tetap berkokok, kabut tetap turun di punggung bukit, dan embun masih menggantung di ujung daun bambu. Tapi ketika siang menjelang, hidup saya seperti digeser pelan-pelan oleh tangan tak terlihat, lalu dijatuhkan ke jurang yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Sejak hari itu, langit berubah warna. Bukan birunya yang hilang, tapi warnanya kehilangan makna. Sunyi bukan lagi sekadar tidak ada suara. Sunyi menjadi ruang kosong yang berdengung di dada. Seperti berdiri di ladang luas tanpa pohon, tanpa bayang-bayang, tanpa tempat berlindung dari panas. Bapak hanya buruh tani. Kami tidak mewarisi sawah, tidak punya sertifikat tanah, tidak punya simpanan. Harapan bapak hanyalah sebidang tanah garapan di kawasan hutan ya...

Merencanakan Perubahan Norma Sosial: Jalan Panjang Merawat Lingkungan Hidup

Perubahan lingkungan hidup yang berkelanjutan tidak pernah lahir dari program yang berdiri sendiri. Ia tumbuh dari sesuatu yang lebih dalam: perubahan norma sosial, yaitu tentang apa yang dianggap wajar, pantas, dan seharusnya dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Di titik inilah BANG KALIANDRA ditempatkan bukan sekadar sebagai program pemerintah daerah, melainkan sebagai cita-cita kolektif untuk menggeser cara pandang, cara bersikap, dan cara bertindak masyarakat terhadap lingkungan. Ilmuwan sosial Peter L. Berger menjelaskan bahwa realitas sosial dibentuk melalui proses yang terus diulang dan dilembagakan. Apa yang awalnya dianggap pilihan, lama-kelamaan menjadi kebiasaan, lalu berubah menjadi norma. Dalam konteks lingkungan, persoalan utama bukan ketiadaan pengetahuan, melainkan belum mengakarnya perilaku ramah lingkungan sebagai sesuatu yang “biasa”. Memilah sampah, menanam pohon, mengurangi plastik, atau melaporkan kerusakan lingkungan masih sering dipandang sebagai tindakan ekst...

Gubernur Banten Luncurkan BANG KALIANDRA (Pembangunan Gerakan Kelola Lingkungan Daerah Sejahtera)

Gambar
Pemerintah Provinsi Banten secara resmi meluncurkan BANG KALIANDRA (Pembangunan Gerakan Kelola Lingkungan Daerah Sejahtera) sebagai gerakan bersama dalam pengelolaan lingkungan hidup daerah. Peluncuran ini dilakukan bertepatan dengan kehadiran Gubernur Banten pada peringatan Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) dan Bulan Menanam Nasional (BMN) Tingkat Provinsi Banten Tahun 2025, yang diselenggarakan di Brigif TP 87/Salakanagara, Kecamatan Waringin Kurung, Kabupaten Serang. Peluncuran ditandai dengan pembunyian sirine oleh Gubernur Banten, didampingi oleh sejumlah tokoh dan pejabat, di antaranya Danrem Maulana Yusuf, Ketua Umum Pengurus Besar Mathla’ul Anwar (PBMA) KH. Embay Mulya Syarief, Sekretaris Daerah Kabupaten Serang, unsur Forkopimda, Kepala Dinas LHK Banten Wawan Gunawan, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Banten Babar Suharso serta para pejabat dan tokoh masyarakat lainnya. Melalui akun TikTok Abdi Banten, disampaikan bahwa peluncuran BANG KALIANDRA bukan sekadar kegiat...

Grand Design Perda Lingkungan Hidup: Dari Regulasi yang Mengatur Menjadi Regulasi yang Menggerakkan

Di banyak daerah, termasuk Provinsi Banten, tantangan lingkungan hidup hari ini sudah jauh berbeda dibanding satu atau dua dekade lalu. Polusi udara semakin sering terjadi di kawasan industri dan perkotaan. Sungai-sungai yang dulu menjadi sumber kehidupan kini berubah warna, berbau, bahkan tak jarang mati secara ekologis. Lahan hijau tergerus pembangunan, sampah terus menumpuk, dan perubahan iklim mulai menimbulkan dampak nyata—banjir, kekeringan, dan cuaca ekstrem. Di sisi lain, pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi terus meningkat, sementara daya tampung dan daya dukung lingkungan relatif tetap, bahkan cenderung menurun. Kondisi ini membuat masalah lingkungan hidup semakin kompleks dan saling terkait. Upaya pengelolaan tidak lagi bisa dilakukan secara biasa-biasa saja (business as usual). Kita membutuhkan kerangka baru: cara pandang yang lebih utuh, pendekatan yang terukur, dan gerakan yang melibatkan semua pihak. Dalam konteks inilah kebutuhan akan sebuah Peraturan Daerah menge...

Ternyata Ini, 10 Biang Kerok yang Diam-Diam Menghambat Kemajuan!

Di sebuah entitas negeri, instansi, perusahaan, organisasi, atau lembaga yang dinilai punya potensi besar, akan ada  masyarakat atau anggotanya yang bertanya-tanya: "Kita ini sebenarnya bisa maju lebih cepat. Tapi kok rasanya jalan di tempat? Seperti ada yang mengganjal, seperti ada yang menahan laju yang seharusnya bisa kita capai?” Ternyata ada beberapa “kebiasaan klasik” yang sering menjadi biang kerok. Semuanya terlihat sepele, tetapi diam-diam mampu mengerem laju kemajuan. Perlu sama-sama dicermati—jangan-jangan ada yang tanpa sadar masih kita praktikkan? Berikut catatan biang kerok hasil penelusuran (dengan sedikit bantuan AI): 1. Terjebak dalam zona nyaman Seberapa buruk pun kinerja, selalu ada yang tetap merasa aman. Bahkan nol kontribusi pun, kursi tetap terasa empuk, sampai lupa bahwa kursi itu tempat bekerja—bukan tempat berlibur. Ketika kenyamanan berubah menjadi jaring laba-laba, manusia bisa terperangkap didalamnya. Dan kalau sudah lama terjebak, membangunkannya, ser...

Ketika Teguran Tak Lagi Didengar: Membangun Disiplin Sekolah yang Komunikatif

Beberapa waktu lalu, di sebuah sekolah menengah, puluhan siswa mogok. Bisa jadi kejadian ini berkaitan dengan upaya penerapan aturan disiplin yang sedang dijalankan oleh sekolah. Dari luar, ini tampak seperti bentuk ketidakdisiplinan. Tapi kalau kita mau sedikit lebih jujur, mungkin masalahnya bukan di niat siswa yang  berdemonstrasi, melainkan ada cara sekolah berkomunikasi tentang disiplin, yang belum tepat sasaran.  Guru ingin menanamkan disiplin dan tanggung jawab, tapi pesan yang diterima siswa sering terasa seperti ancaman. Sementara siswa ingin didengar, tapi suaranya jarang sampai ke ruang rapat guru. Akhirnya, saluran komunikasi itu tersumbat. Pesan tentang nilai disiplin pun gagal sampai dengan makna yang diharapkan. Disiplin Itu Soal Komunikasi Dalam teori klasik komunikasi dari Shannon dan Weaver (1949), kegagalan penyampaian pesan sering disebabkan oleh noise — gangguan yang mengubah makna pesan. Nah, di ruang kelas, noise itu bisa berupa nada otoritatif guru, sua...