Postingan

Merencanakan Perubahan Norma Sosial: Jalan Panjang Merawat Lingkungan Hidup

Perubahan lingkungan hidup yang berkelanjutan tidak pernah lahir dari program yang berdiri sendiri. Ia tumbuh dari sesuatu yang lebih dalam: perubahan norma sosial, yaitu tentang apa yang dianggap wajar, pantas, dan seharusnya dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Di titik inilah BANG KALIANDRA ditempatkan bukan sekadar sebagai program pemerintah daerah, melainkan sebagai cita-cita kolektif untuk menggeser cara pandang, cara bersikap, dan cara bertindak masyarakat terhadap lingkungan. Ilmuwan sosial Peter L. Berger menjelaskan bahwa realitas sosial dibentuk melalui proses yang terus diulang dan dilembagakan. Apa yang awalnya dianggap pilihan, lama-kelamaan menjadi kebiasaan, lalu berubah menjadi norma. Dalam konteks lingkungan, persoalan utama bukan ketiadaan pengetahuan, melainkan belum mengakarnya perilaku ramah lingkungan sebagai sesuatu yang “biasa”. Memilah sampah, menanam pohon, mengurangi plastik, atau melaporkan kerusakan lingkungan masih sering dipandang sebagai tindakan ekst...

Gubernur Banten Luncurkan BANG KALIANDRA (Pembangunan Gerakan Kelola Lingkungan Daerah Sejahtera)

Gambar
Pemerintah Provinsi Banten secara resmi meluncurkan BANG KALIANDRA (Pembangunan Gerakan Kelola Lingkungan Daerah Sejahtera) sebagai gerakan bersama dalam pengelolaan lingkungan hidup daerah. Peluncuran ini dilakukan bertepatan dengan kehadiran Gubernur Banten pada peringatan Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) dan Bulan Menanam Nasional (BMN) Tingkat Provinsi Banten Tahun 2025, yang diselenggarakan di Brigif TP 87/Salakanagara, Kecamatan Waringin Kurung, Kabupaten Serang. Peluncuran ditandai dengan pembunyian sirine oleh Gubernur Banten, didampingi oleh sejumlah tokoh dan pejabat, di antaranya Danrem Maulana Yusuf, Ketua Umum Pengurus Besar Mathla’ul Anwar (PBMA) KH. Embay Mulya Syarief, Sekretaris Daerah Kabupaten Serang, unsur Forkopimda, Kepala Dinas LHK Banten Wawan Gunawan, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Banten Babar Suharso serta para pejabat dan tokoh masyarakat lainnya. Melalui akun TikTok Abdi Banten, disampaikan bahwa peluncuran BANG KALIANDRA bukan sekadar kegiat...

Grand Design Perda Lingkungan Hidup: Dari Regulasi yang Mengatur Menjadi Regulasi yang Menggerakkan

Di banyak daerah, termasuk Provinsi Banten, tantangan lingkungan hidup hari ini sudah jauh berbeda dibanding satu atau dua dekade lalu. Polusi udara semakin sering terjadi di kawasan industri dan perkotaan. Sungai-sungai yang dulu menjadi sumber kehidupan kini berubah warna, berbau, bahkan tak jarang mati secara ekologis. Lahan hijau tergerus pembangunan, sampah terus menumpuk, dan perubahan iklim mulai menimbulkan dampak nyata—banjir, kekeringan, dan cuaca ekstrem. Di sisi lain, pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi terus meningkat, sementara daya tampung dan daya dukung lingkungan relatif tetap, bahkan cenderung menurun. Kondisi ini membuat masalah lingkungan hidup semakin kompleks dan saling terkait. Upaya pengelolaan tidak lagi bisa dilakukan secara biasa-biasa saja (business as usual). Kita membutuhkan kerangka baru: cara pandang yang lebih utuh, pendekatan yang terukur, dan gerakan yang melibatkan semua pihak. Dalam konteks inilah kebutuhan akan sebuah Peraturan Daerah menge...

Ternyata Ini, 10 Biang Kerok yang Diam-Diam Menghambat Kemajuan!

Di sebuah entitas negeri, instansi, perusahaan, organisasi, atau lembaga yang dinilai punya potensi besar, akan ada  masyarakat atau anggotanya yang bertanya-tanya: "Kita ini sebenarnya bisa maju lebih cepat. Tapi kok rasanya jalan di tempat? Seperti ada yang mengganjal, seperti ada yang menahan laju yang seharusnya bisa kita capai?” Ternyata ada beberapa “kebiasaan klasik” yang sering menjadi biang kerok. Semuanya terlihat sepele, tetapi diam-diam mampu mengerem laju kemajuan. Perlu sama-sama dicermati—jangan-jangan ada yang tanpa sadar masih kita praktikkan? Berikut catatan biang kerok hasil penelusuran (dengan sedikit bantuan AI): 1. Terjebak dalam zona nyaman Seberapa buruk pun kinerja, selalu ada yang tetap merasa aman. Bahkan nol kontribusi pun, kursi tetap terasa empuk, sampai lupa bahwa kursi itu tempat bekerja—bukan tempat berlibur. Ketika kenyamanan berubah menjadi jaring laba-laba, manusia bisa terperangkap didalamnya. Dan kalau sudah lama terjebak, membangunkannya, ser...

Ketika Teguran Tak Lagi Didengar: Membangun Disiplin Sekolah yang Komunikatif

Beberapa waktu lalu, di sebuah sekolah menengah, puluhan siswa mogok. Bisa jadi kejadian ini berkaitan dengan upaya penerapan aturan disiplin yang sedang dijalankan oleh sekolah. Dari luar, ini tampak seperti bentuk ketidakdisiplinan. Tapi kalau kita mau sedikit lebih jujur, mungkin masalahnya bukan di niat siswa yang  berdemonstrasi, melainkan ada cara sekolah berkomunikasi tentang disiplin, yang belum tepat sasaran.  Guru ingin menanamkan disiplin dan tanggung jawab, tapi pesan yang diterima siswa sering terasa seperti ancaman. Sementara siswa ingin didengar, tapi suaranya jarang sampai ke ruang rapat guru. Akhirnya, saluran komunikasi itu tersumbat. Pesan tentang nilai disiplin pun gagal sampai dengan makna yang diharapkan. Disiplin Itu Soal Komunikasi Dalam teori klasik komunikasi dari Shannon dan Weaver (1949), kegagalan penyampaian pesan sering disebabkan oleh noise — gangguan yang mengubah makna pesan. Nah, di ruang kelas, noise itu bisa berupa nada otoritatif guru, sua...

Mengapa Kita Tak Juga Tertib?

Gambar
    Tuesday, Jun 24, 2025   Berlangganan sampai 24-07-2025  Home Utama Mengapa Kita Tak Juga Tertib? Utama Mengapa Kita Tak Juga Tertib? by  Redaksi  Jun 24,2025 Oleh: Irwan Setiawan Pembelajaran dari Isu Kebersihan dan Penanganan Sampah MENGAPA ada bangsa yang bisa menata ke­tertiban dengan penuh kesadaran, se­mentara ada bang­sa lain yang se­per­tinya kesu­li­tan, bahkan untuk mene­gak­kan hal kecil se­perti mem­buang sampah pada tem­pat­nya? Mengapa ada masyarakat yang begitu di­si­plin menjaga ruang publik tetap bersih, se­mentara di tempat lain, kebersihan harus te­rus diingatkan dengan ceramah berpengeras suara dan spanduk besar - namun tetap ba­nyak yang tidak menggubris? Ini bukan semata soal pendidikan formal, melainkan soal bagaimana nilai-nilai itu dihidupkan melalui tindakan kolektif, bukan sekadar diajarkan lewat ceramah verbal. Pertanyaan penting pun mengemuka: apakah metode ceramah masih mampu menembus kontradiksi? Di banyak tempat, kita meny...