WALAU BUKAN LASKAR PELANGI (KISAH NYATA YANG DITULIS BERSAMBUNG)
Bab I Sejak Itu, Langit Tak Lagi Sama Saya masih kelas tiga SMP ketika bapak meninggal. Tidak ada petir yang menyambar lebih dulu. Tidak ada mimpi buruk yang memberi aba-aba. Tidak ada tanda alam yang bisa dibaca anak seusia saya. Pagi itu hanya seperti pagi-pagi biasa—ayam tetap berkokok, kabut tetap turun di punggung bukit, dan embun masih menggantung di ujung daun bambu. Tapi ketika siang menjelang, hidup saya seperti digeser pelan-pelan oleh tangan tak terlihat, lalu dijatuhkan ke jurang yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Sejak hari itu, langit berubah warna. Bukan birunya yang hilang, tapi warnanya kehilangan makna. Sunyi bukan lagi sekadar tidak ada suara. Sunyi menjadi ruang kosong yang berdengung di dada. Seperti berdiri di ladang luas tanpa pohon, tanpa bayang-bayang, tanpa tempat berlindung dari panas. Bapak hanya buruh tani. Kami tidak mewarisi sawah, tidak punya sertifikat tanah, tidak punya simpanan. Harapan bapak hanyalah sebidang tanah garapan di kawasan hutan ya...