Mengaku Peduli Lingkungan? Ujian Sesungguhnya Ada di Kebiasaanmu!

Sebelumnya harus disclaimer dahulu, bahwa ini tulisan AI, jika merasa ada yang tersindir, saya pun sama, bahkan lebih tepatnya saya pun merasa tertampar. Semoga kita semua menjadi orang yang selalu mendapat petunjuk. 

Bekerja di bidang lingkungan hidup sering kali dianggap sebagai profesi yang mulia, penuh kepedulian terhadap alam, dan didasari oleh niat baik untuk menjaga bumi. Namun, tanpa disadari, bidang ini justru menjadi cermin tajam yang menguji apakah seseorang benar-benar tulus atau hanya sekadar pencitraan.

Di awal, banyak orang merasa semangat untuk berkontribusi dalam menjaga lingkungan. Namun, seiring waktu, realitas pekerjaan menunjukkan bahwa ini bukan sekadar teori atau sekumpulan jargon hijau. Ada tantangan nyata yang harus dihadapi, mulai dari bertemunya hal yang berbelit, kepentingan ekonomi yang berbenturan dengan keberlanjutan, hingga budaya kerja yang masih perlu diperbaiki.

Di sinilah ujian itu terjadi. Apakah kita benar-benar peduli atau hanya sekadar terlihat peduli? Apakah kita tetap berjuang meskipun hasilnya tak selalu instan, atau justru memilih mundur ketika kepentingan pribadi terganggu? Bekerja di bidang lingkungan hidup memaksa kita untuk jujur pada diri sendiri—apakah kita melakukannya karena keyakinan atau hanya sekadar formalitas?

Ujian Nyata dalam Kehidupan Sehari-hari

Ketulusan seseorang dalam bidang ini bisa terlihat dari tindakan kecil yang sejalan dengan prinsip lingkungan. Misalnya, seseorang yang aktif mengkampanyekan pengurangan sampah plastik, tetapi dalam kesehariannya masih sering memakai plastik sekali pakai tanpa upaya mengurangi, akan mudah terlihat kepalsuannya. Begitu juga dengan program pengurangan sampah ke TPA—apakah kita benar-benar memilah dan mengelola sampah dengan baik, atau hanya bicara tanpa tindakan nyata?

Menerapkan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) juga menjadi tolok ukur. Orang yang benar-benar peduli akan berusaha mengurangi konsumsi barang yang berpotensi menjadi sampah, menggunakan kembali barang yang masih bisa dimanfaatkan, dan memastikan barang yang bisa didaur ulang masuk ke alur yang tepat. Sebaliknya, mereka yang hanya ingin terlihat peduli mungkin hanya berbicara tentang 3R, tetapi tetap membuang barang tanpa memilahnya.

Gerakan menanam pohon pun menjadi contoh lain. Banyak orang berfoto saat acara penanaman pohon, tetapi setelah itu, apakah mereka masih peduli dengan nasib pohon tersebut? Apakah mereka memastikan pohon yang ditanam tumbuh dengan baik, atau hanya menjadikannya sebagai momen simbolis? Lingkungan tidak bisa ditipu oleh kata-kata; yang dibutuhkan adalah tindakan konkret dan konsisten.

Kejujuran dalam Aksi

Ketika seseorang benar-benar berkomitmen terhadap lingkungan, ia tidak hanya bicara, tetapi juga mengubah gaya hidupnya. Orang yang tulus akan mencari cara untuk terus memperbaiki kebiasaan dan mengajak orang lain dengan keteladanan, bukan sekadar wacana.

Seperti yang dikatakan Mahatma Gandhi, “Be the change that you wish to see in the world.” Jika kita ingin dunia lebih bersih dari sampah plastik, kita harus mulai dari diri sendiri. Jika kita ingin lebih banyak pohon tumbuh, kita harus memastikan pohon yang kita tanam tetap hidup.

Bekerja di bidang lingkungan hidup bukan sekadar tugas, melainkan perjalanan menguji kejujuran kita terhadap apa yang kita yakini. Alam tidak bisa dibohongi. Pada akhirnya, jejak kerja kita akan berbicara—apakah kita benar-benar peduli atau hanya tampak peduli?

Kontemplasi: Mengaca pada Diri Sendiri

Sepertinya saya pun masih perlu mengaca lebih sering. Jangan-jangan, masih terlalu banyak kepalsuan dalam diri saya yang selama ini terselubung oleh alasan dan pembenaran. Mungkin saya masih sering merasa sudah cukup peduli, padahal langkah-langkah saya belum seutuhnya mencerminkan komitmen yang sesungguhnya. Jika lingkungan adalah cermin, apakah saya siap melihat bayangan diri saya yang sesungguhnya?  Semoga kita semua termasuk orang-orang yang selalu diberi petunjuk. Aamiin


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

WALAU BUKAN LASKAR PELANGI (KISAH NYATA YANG DITULIS BERSAMBUNG)

Ketika Teguran Tak Lagi Didengar: Membangun Disiplin Sekolah yang Komunikatif