Mengapa Kita Tak Juga Tertib?

 

  •  Tuesday, Jun 24, 2025
  •  Berlangganan sampai 24-07-2025
Utama

Mengapa Kita Tak Juga Tertib?

post-img

Oleh: Irwan Setiawan

Pembelajaran dari Isu Kebersihan dan Penanganan Sampah

MENGAPA ada bangsa yang bisa menata ke­tertiban dengan penuh kesadaran, se­mentara ada bang­sa lain yang se­per­tinya kesu­li­tan, bahkan untuk mene­gak­kan hal kecil se­perti mem­buang sampah pada tem­pat­nya? Mengapa ada masyarakat yang begitu di­si­plin menjaga ruang publik tetap bersih, se­mentara di tempat lain, kebersihan harus te­rus diingatkan dengan ceramah berpengeras suara dan spanduk besar - namun tetap ba­nyak yang tidak menggubris?

Ini bukan semata soal pendidikan formal, melainkan soal bagaimana nilai-nilai itu dihidupkan melalui tindakan kolektif, bukan sekadar diajarkan lewat ceramah verbal.

Pertanyaan penting pun mengemuka: apakah metode ceramah masih mampu menembus kontradiksi? Di banyak tempat, kita menyaksikan upaya pembentukan ka­rakter masyarakat melalui forum, se­minar, dan slogan. Namun ironisnya, di tempat yang sama, perilaku tidak tertib jus­tru menjadi pemandangan biasa. Sam­pah berserakan, tidak tertib antrian, merokok sembarangan, apalagi kalau sampai kesadaran untuk mengurangi penggunaan plastik yang mencemari lingkungan atau mem­biasakan memilah sampah, sungguh masih sangat jauh dari harapan.

Albert Bandura, psikolog sosial dari Stan­ford yang dikenal lewat teori social learning, mengatakan, “Anak-anak belajar dari model yang mereka lihat, bukan dari instruksi yang mereka dengar.” Keteladanan adalah kurikulum utama dalam pendidikan karakter. Tanpa itu, pesan verbal kehilangan makna. Yang tertinggal seperti sinisme publik yang diulang-ulang.

Dalam Islam, Al-Ghazali menegaskan bahwa akhlak dibentuk melalui riyadhah al-nafs—latihan jiwa yang konsisten—bu­kan lewat kata-kata indah semata. Maka ka­rakter itu harus dipahat, bukan dice­ramahkan. Dan pahatan paling kuat adalah keteladanan serta kebiasaan nyata yang berulang.

Mari kita ambil contoh sederhana, dari pe­nge­lolaan sampah. Di sebuah negara Asia yang sudah maju, sebagian besar sekolah tidak menyerahkan seluruh urusan kebersihan kepada petugas. Anak-anak dilibatkan dalam pembersihan harian seperti menyapu, mengepel, membuang sampah, hingga membersihkan toilet. Meski tetap ada staf kebersihan profesional untuk pekerjaan berat dan teknis seperti memotong rumput atau merawat infra­struk­tur, siswa diajarkan bahwa kebersihan ada­lah tanggung jawab bersama—bukan sekadar slogan.

Pertanyaannya, bukankah kita juga me­la­­kukan hal serupa? Di Indonesia, hampir semua sekolah punya jadwal piket ke­las. Anak-anak menyapu lantai, mem­buang sampah, bahkan menyiram tanaman. Lalu, mengapa hasilnya berbeda?

Jawabannya terletak pada konsistensi, ekosistem nilai, dan keteladanan yang menyeluruh. Di banyak sekolah kita, kerja bakti sering dipahami sebagai rutinitas simbolik—untuk memenuhi kewajiban, bu­kan karena dihargai sebagai nilai ke­hidupan. Setelah selesai piket, anak-anak bisa melihat perilaku orang dewasa mem­buang sampah sembarangan.

Di banyak negara maju, nilai kebersihan bukan hanya diajarkan, tapi dihidupi ber­sa­ma. Ketika siswa membersihkan kelas, guru pun ikut turun tangan. Saat ruang publik bersih, bukan karena ada larangan keras, tapi karena semua orang merasa memiliki dan menjaga. Di sinilah bedanya: apa yang diajarkan di sekolah, diperkuat oleh lingkungan luar sekolah—baik di rumah, media, maupun ruang publik.

Pendidikan karakter tidak akan efektif bila sekolah mengajarkan satu hal, semen­tara masyarakat menampilkan hal sebalik­nya. Kita tidak bisa berharap anak-anak tumbuh menjadi pribadi disiplin hanya dengan menyuruh mereka menyapu kelas, sementara mereka melihat budaya abai di sekitarnya.

Seperti kata psikolog pendidikan James Co­mer, “No significant learning occurs without a significant relationship.” Jika relasi antara nilai dan realitas terputus, maka pelajaran hanya tinggal teori.

Kita tahu, di banyak negara Muslim—ter­masuk Indonesia—ungkapan “keber­si­han sebagian dari iman” hadir hampir di setiap spanduk, tetapi realitasnya justru bertolak belakang. Sampah berserakan di sungai, di jalanan, bahkan di laut. Mengapa ini terjadi? Karena pesan verbal tidak lagi sinkron dengan keteladanan sosial dan sistem pendukung. Kita terlalu banyak berkata, tapi terlalu sedikit menata sistem yang memudahkan orang berbuat baik. Kita terlalu banyak mengingatkan, tapi minim memberi contoh.

Budaya tertib tidak terbentuk dalam se­malam. Ia lahir dari sistem sosial yang memberi ganjaran atas kebaikan kecil dan sanksi atas pelanggaran kecil. Dalam bukunya The Tipping Point, Malcolm Gladwell menulis bahwa perubahan besar bisa dimulai dari hal kecil yang ditegakkan secara konsisten. Ia mengangkat teori Broken Windows, bahwa ketidaktertiban kecil yang dibiarkan—seperti jendela pecah atau sampah yang tidak segera diambil—akan mengundang kekacauan yang lebih besar.

Dalam perspektif Islam, Ibn Khaldun menekankan pentingnya ‘asabiyah—ikatan sosial yang membentuk solidaritas dan kepatuhan kolektif. Ketika masyarakat merasa memiliki tanggung jawab bersama, norma dan aturan tak perlu lagi dipaksakan dari luar; ia tumbuh dari dalam.

Apa yang harus kita lakukan ke depan? Kita butuh memperbanyak teladan. Bangsa ini tidak kekurangan motivator, juru bicara, atau forum diskusi. Namun kita kekurangan figur yang memberi contoh melalui tindakan nyata—misalnya memilah sam­pah di rumah masing-masing, tidak meng­gunakan air kemasan plastik saat rapat, atau membiasakan menanam pohon di setiap kesempatan.

Kita butuh penggerak yang berani mengulang tindakan baik, bukan hanya pidato baik. Karena karakter bangsa dibentuk bukan oleh retorika, melainkan oleh rutinitas yang dicontohkan oleh mereka yang dipercaya. Jika kita ingin bangsa ini tertib dan bersih, kita harus berani berhenti hanya berbicara soal iman dan akhlak. Kita perlu menum­buhkannya melalui sistem yang adil, keteladanan yang nyata, dan disiplin kolektif—dimulai dari hal yang paling sederhana: tidak membuang sampah sembarangan.

“Be the change that you wish to see in the world,” ujar Mahatma Gandhi. Dunia tidak berubah oleh kata-kata. Ia berubah oleh tindakan yang terus diulang, oleh mereka yang diam-diam memperbaiki kebiasaan hari ini demi masa depan yang lebih baik. Di negeri tropis ini, jika banyak penduduknya punya kebiasaan menanam yang lebih hebat dibanding menebang, seharusnya hujan akan tetap menjadi rahmah, karena airnya tersimpan di dalam tanah. Tapi jika vegetasi lenyap, hujan berubah menjadi bencana: banjir di musim penghujan, kekeringan di musim kemarau. (*)


Penulis adalah ASN di Provinsi Banten.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

WALAU BUKAN LASKAR PELANGI (KISAH NYATA YANG DITULIS BERSAMBUNG)

Ketika Teguran Tak Lagi Didengar: Membangun Disiplin Sekolah yang Komunikatif

HPSN 2026: Perubahan Besar Dimulai dari Rumah