WALAU BUKAN LASKAR PELANGI (KISAH NYATA YANG DITULIS BERSAMBUNG)

Bab I

Sejak Itu, Langit Tak Lagi Sama


Saya masih kelas tiga SMP ketika bapak meninggal.

Tidak ada petir yang menyambar lebih dulu. Tidak ada mimpi buruk yang memberi aba-aba. Tidak ada tanda alam yang bisa dibaca anak seusia saya. Pagi itu hanya seperti pagi-pagi biasa—ayam tetap berkokok, kabut tetap turun di punggung bukit, dan embun masih menggantung di ujung daun bambu. Tapi ketika siang menjelang, hidup saya seperti digeser pelan-pelan oleh tangan tak terlihat, lalu dijatuhkan ke jurang yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Sejak hari itu, langit berubah warna.

Bukan birunya yang hilang, tapi warnanya kehilangan makna.

Sunyi bukan lagi sekadar tidak ada suara. Sunyi menjadi ruang kosong yang berdengung di dada. Seperti berdiri di ladang luas tanpa pohon, tanpa bayang-bayang, tanpa tempat berlindung dari panas.

Bapak hanya buruh tani. Kami tidak mewarisi sawah, tidak punya sertifikat tanah, tidak punya simpanan. Harapan bapak hanyalah sebidang tanah garapan di kawasan hutan yang jaraknya jauh dari kampung kami. Tanah itu belum apa-apa, masih liar, penuh semak dan batu. Tapi di mata bapak, di situlah masa depan ditanam.

Kebun kopi itu belum sempat berbuah ketika bapak pergi.

Karena jauhnya jarak dari kampung, bapak dan ibu membuat saung kecil di kebun. Saung beratap rumbia, berdinding anyaman bambu yang berderit bila malam datang. Mereka tinggal di sana. Saya, yang masih sekolah, tinggal sendiri di rumah kampung.

Rumah kecil itu tiba-tiba terasa terlalu besar untuk anak kelas tiga SMP.

Saya belajar mandiri lebih cepat dari seharusnya. Sepulang sekolah saya langsung memasak nasi—sekali sehari. Tidak ada mejikom waktu itu. Kalau beras terlalu banyak air, nasi jadi lembek. Kalau kurang, keras seperti kerikil. Tapi saya makan juga. Lapar tidak pernah pilih-pilih tekstur.

Teman-teman mungkin heran kenapa saya selalu buru-buru pulang setelah bel berbunyi. Mereka mungkin mengira saya anak rumahan, atau tak suka nongkrong. Mereka tak tahu, di dapur rumah kecil itu ada panci kosong yang menunggu diisi. Ada perut yang harus diselamatkan sebelum magrib.

Kakak-kakak sudah lebih dulu meninggalkan kampung. Cileungsi menjadi tujuan mereka. Kota kecil itu seperti magnet bagi pemuda desa yang ingin bertahan hidup. Kami seperti biji-biji padi yang terlempar ke berbagai arah, berharap tumbuh di tanah yang kami tidak tahu, entah bersahabat, atau tidak.

Lalu bapak pergi.

Dan hidup seperti kehilangan tiangnya.

Semangat sekolah mengendur. Padahal ujian kelulusan sudah di depan mata. Buku-buku masih terbuka, tapi huruf-huruf di dalamnya seperti berlarian tanpa makna. Saya membaca, tapi tidak masuk. Saya menulis, tapi seperti bukan tangan saya yang bergerak.

Setelah bapak pergi, ibu tidak pergi ke kebun, tetap menunggu saya di kampung.  Mungkin ibu takut saya bersedih sendirian, atau tanpa saya mengerti mungkin kesedihan ibu lebih dalam dari saya.  Saya sering melihat ibu duduk diam di teras saat magrib turun perlahan seperti tirai duka. Tangannya terlipat di pangkuan. Pandangannya jauh ke jalan tanah yang lengang.

Ibu tidak menangis keras.

Tidak mengeluh.

Tidak menyalahkan siapa pun.

Tapi saya tahu, di kepalanya sedang berputar hitungan-hitungan yang tak pernah cocok.

Berapa biaya sekolah?

Berapa harga beras?

Siapa yang akan membantu mencarinya?

Berapa yang tersisa setelah bapak tak lagi ada?

Angka-angka itu seperti hantu yang duduk di samping kami setiap malam.

Dan saya mulai berhitung juga, diam-diam.

Kalau untuk makan saja berat, bagaimana mungkin saya bisa lanjut sekolah?

Apalagi waktu itu belum ada SMA di kecamatan saya. SMA hanya ada di kecamatan tetangga, Jonggol—jaraknya terlalu jauh untuk ditempuh berjalan kaki. Ongkos menjadi tembok tinggi yang tak terlihat, tapi kokoh seperti benteng.

Hari perpisahan SMP datang.

Anak-anak lain tertawa. Kamera berkilat. Buku kenangan berpindah tangan. Mereka menulis harapan dengan tinta warna-warni. Mereka menyebut nama SMA impian dengan mata berbinar. Seolah masa depan sudah berbaris rapi menunggu mereka.

Saya tersenyum seperlunya.

Saya mendengar kabar NEM saya tinggi.

Ironis sekali.

Prestasi yang seharusnya menjadi tangga, justru terasa seperti ejekan.

Untuk apa angka tinggi itu, kalau saya tahu saya mungkin tidak bisa melanjutkan?

Di ruang kelas 3A, Bu Lilis, wali kelas saya, memanggil saya ke depan.

Beliau tidak langsung berbicara. Hanya menatap saya lama sekali. Tatapan yang tidak biasa. Tatapan seorang guru yang tahu ada muridnya yang sedang berdiri di tepi jurang.

Lalu air matanya jatuh.

Saya ikut tersentak. Dunia rasanya berhenti sesaat.

“Ibu tahu bapakmu sudah tidak ada,” katanya pelan, suaranya bergetar seperti daun tersentuh angin.

“Tapi prestasimu bagus sekali. Kamu jangan berhenti.”

Beliau merogoh tasnya. Sebuah amplop putih keluar dari sana.

“Ini ibu ada sedikit. Mungkin untuk ongkos kendaraan. Kalau kamu berjuang, pasti ada jalan.”

Amplop itu tipis. Tapi bagi saya, ia lebih berat dari emas.

Itu bukan sekadar uang.

Saya seakan mendapat izin untuk kembali bermimpi.

Itu pengakuan bahwa anak buruh tani pun boleh punya langit sendiri.

Malam itu saya berkata pada ibu, saya ingin mendaftar ke SMA Jonggol.

Ibu hanya mengangguk.

Perempuan sederhana dari kampung, yang tak pandai merangkai kalimat panjang. Tapi keberaniannya selalu lebih besar dari keraguannya. Di balik tubuhnya yang kecil, saya tahu ada tekad yang sama kerasnya, seperti seperti tekad saya, walau tak ada lagi Bapak untuk minta disekolahkan.

Ketika pendaftaraan SMA dibuka, kami berangkat pagi-pagi sekali.

Perjalanan terasa panjang. Debu jalanan menempel di wajah. Harapan saya duduk diam di pangkuan, rapuh seperti gelas tipis. Antara ragu dan penasaran, barangkali benar seperti kata Bu Lilis, kalau saya berjuang, pasti ada jalan.

Ruang kepala sekolah itu masih saya ingat jelas. Sofa tamu dengan kain yang sudah agak kusam. Lemari arsip berdiri kaku. Dinding dihiasi foto-foto pejabat dengan wajah resmi dan jas rapi.

Kami duduk di sofa itu. Sofa berlapis kain coklat yang sudah mulai pudar warnanya, mungkin terlalu sering menampung harapan-harapan orang tua yang datang silih berganti.

Kami menunggu.

Di dalam ruangan, Pak Kepala Sekolah sedang menerima tamu lain—seorang calon siswa dan orang tuanya. Mereka berbicara pelan, sesekali terdengar tawa kecil. Saya tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi dari cara duduk mereka yang tegak dan yakin, saya tahu mereka datang bukan untuk memohon.

Waktu berjalan lambat. Jam dinding berdetak seperti menghitung sisa keberanian saya.

Ibu duduk di samping saya. Tangannya menggenggam ujung kerudungnya erat-erat. Saya tahu itu tanda gugupnya. Di ruangan itu, kami seperti dua orang asing yang tersesat di tempat yang terlalu rapi untuk ukuran hidup kami.

Akhirnya pintu terbuka.

Pak Kepala Sekolah keluar, pakaiannya rapi, wajahnya tenang. Ia memandang kami sekilas.

“Ada apa ya?” tanyanya singkat.

Tidak ada senyum. Tidak ada jeda panjang. Hanya kalimat pendek yang terasa seperti pagar.

Ibu terdiam. Bibirnya bergerak sedikit, tapi tak ada suara yang keluar. Saya bisa merasakan ia mendorong keberanian ke arah saya.

Saya menelan ludah. Tenggorokan saya terasa kering seperti tanah kemarau.

“Pak…” suara saya hampir tak terdengar. Saya mengulang, sedikit lebih keras.
“Pak… saya ingin sekolah. Tapi bapak saya sudah tidak ada. Tidak ada yang membiayai.”

Kalimat itu sederhana. Tapi rasanya seperti saya sedang meletakkan seluruh hidup saya di atas meja kerjanya.

Sebagai anak lulus SMP, saya tidak paham tentang administrasi, tentang aturan, tentang prosedur. Saya hanya tahu satu hal, saya ingin terus bersekolah. Dan saya tidak punya apa-apa selain nilai yang tinggi dan keinginan yang lebih tinggi lagi.

Saya berharap ada celah kecil di wajahnya.
Sebuah tanda bahwa pintu itu belum sepenuhnya tertutup

Jawaban kepala sekolah datang cepat. Terlalu cepat.

“Ini sekolah negeri. Bukan yayasan. Tidak bisa seperti itu.”

Kalimat itu dingin. Tidak marah. Tidak keras. Tapi dinginnya seperti hujan es di ladang yang baru ditanami.

Tidak ada ruang tawar.

Tidak ada empati panjang.

Hanya aturan.

Dan aturan, bagi orang miskin, sering kali lebih tajam dari pisau.

Ibu berdiri di samping saya. Diam. Wajahnya tidak menunjukkan protes. Hanya pasrah yang ditahan rapi, seperti kain lusuh yang tetap disetrika agar tampak pantas.

Kami keluar ruangan itu tanpa suara.

Bus Agung Jaya yang membawa saya pulang ke Cariu terasa lebih sunyi dari biasanya. Saya memandang sawah-sawah yang lewat, tapi sebenarnya saya tidak melihat apa pun. Dunia seperti kabur. Seperti kaca jendela yang diguyur hujan.

Di kepala saya hanya satu kalimat berputar-putar:

Pintu itu tertutup.

Rapat.

Untuk orang seperti kami.

Dada saya sesak. Perut seperti diremas tangan tak kasat mata. Mual naik cepat ke tenggorokan.

“Ma… ema duluan saja pulang. Saya mau turun dulu. Tidak kuat.”

Saya turun di pinggir jalan dekat sawah, tak jauh dari Sungai Cipatujah. Angin sore berhembus pelan, seolah tahu ada anak yang sedang runtuh di tepi jalan.

Begitu kaki menyentuh tanah, saya langsung membungkuk.

Muntah keluar sejadi-jadinya.

Seolah ingin mengeluarkan semua yang tertahan.

Saya muntah harapan.

Saya muntah harga diri.

Saya muntah masa depan yang baru saja ditutup di depan mata.

Air mata ikut tumpah. Entah karena perut kosong, atau hati yang lebih kosong lagi.

Tubuh saya lemas. Dunia berputar. Langit sore berubah warna, tapi tak lagi indah. Ia hanya menjadi atap luas yang terasa jauh dan tak peduli.

Tak jauh dari situ ada rumah kecil dengan balai-balai kayu di depannya. Sepi. Tidak ada orang. Saya berjalan tertatih, lalu merebahkan diri di sana.

Kayu itu keras. Tapi lebih lembut dari kenyataan yang baru saja saya terima.

Saya menatap langit.

Sejak bapak pergi, langit memang tidak pernah terasa sama.

(bersambung)

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Teguran Tak Lagi Didengar: Membangun Disiplin Sekolah yang Komunikatif

HPSN 2026: Perubahan Besar Dimulai dari Rumah