Menggugat Filosofi Sangkuriang, Roro Jonggrang, dan Pentingnya Karakter Berendurance Tinggi
Endurance, atau daya tahan, adalah kemampuan untuk bertahan dan konsisten dalam menghadapi tantangan hingga tujuan tercapai. Sayangnya, budaya Indonesia sering terjebak dalam pola pikir instan, sebagaimana tercermin dalam kisah-kisah legendaris seperti Sangkuriang dan Roro Jonggrang. Kisah ini mengajarkan bahwa hal besar bisa tercapai "sekejap mata," yang menciptakan mentalitas jalan pintas berbahaya. Akibatnya, bangsa ini kesulitan membangun karakter berendurance tinggi, yang sebenarnya merupakan prasyarat utama untuk mencapai kemajuan.
Ketika Filosofi Instan Menggerogoti Bangsa
Kisah-kisah seperti Sangkuriang dan Roro Jonggrang, yang menggambarkan mahakarya besar dalam waktu semalam, menjadi simbol pola pikir instan yang mengakar di masyarakat. Mentalitas ini memengaruhi berbagai aspek kehidupan, dari olahraga hingga proyek nasional:
1. Olahraga yang Kehabisan Napas
Dalam sepak bola, tim nasional sering bermain cepat di babak pertama, namun kehilangan stamina di babak kedua. Lawan dengan daya tahan lebih baik memanfaatkan kelemahan ini untuk meraih kemenangan, akhirnya banyak kebobolan di babak kedua.
2. Proyek Nasional Tanpa Keberlanjutan
Program pencetakan sejuta hektar sawah, misalnya, sering dimulai dengan semangat tinggi, namun berhenti pada pembukaan hutan tanpa tindak lanjut serius untuk memastikan sawah benar-benar produktif.
3. Pemberantasan Korupsi yang Mandek
Pada awal berdirinya KPK, masyarakat menyaksikan upaya agresif membongkar praktik korupsi. Namun, semangat itu perlahan memudar, bahkan saat ini mulai diwarnai kontroversi pelanggaran etik oleh pemimpin lembaga tersebut.
Masalah ini menunjukkan bahwa semangat besar tanpa daya tahan hanya menghasilkan kegagalan di tengah jalan.
Budaya Instan: Penghalang Endurance
Selain mitos-mitos lokal, budaya instan juga diperparah oleh keyakinan bahwa perubahan besar harus terjadi secepat kilat. Keyakinan pada jalan pintas atau keajaiban membuat masyarakat enggan menjalani proses panjang dan melelahkan yang sebenarnya diperlukan untuk mencapai hasil nyata.
Pepatah Sunda mengingatkan kita, "Ulah kuméok méméh dipacok" (Jangan mengeluh sebelum berjuang). Pepatah ini menekankan pentingnya ketekunan dan keberanian dalam menghadapi tantangan, bukan mengharapkan hasil instan.
Namun, budaya lokal sering bertolak belakang dengan prinsip ini. Harapan instan dari cerita Sangkuriang dan Roro Jonggrang melemahkan mentalitas perjuangan secara bertahap.
Belajar dari Budaya dengan Endurance Tinggi
Beberapa bangsa lain menawarkan pelajaran berharga tentang pentingnya endurance. Filosofi mereka menunjukkan bahwa keberhasilan besar lahir dari proses kecil yang konsisten:
1. Kaizen dari Jepang
Filosofi Kaizen menekankan perbaikan kecil yang dilakukan terus-menerus. Di perusahaan seperti Toyota, filosofi ini telah menciptakan sistem produksi kelas dunia. Pendekatan ini mengajarkan bahwa keberhasilan bukanlah hasil dari terobosan instan, melainkan kerja keras yang konsisten.
2. Gründlichkeit dari Jerman
Budaya Jerman menekankan ketelitian dan kesabaran. Produk-produk Jerman yang terkenal dengan kualitas tinggi, seperti mobil dan mesin, adalah hasil dari perhatian mendalam pada setiap detail.
3. Grit dari Amerika Serikat
Konsep grit, sebagaimana dijelaskan Angela Duckworth, adalah kombinasi hasrat dan ketekunan. Orang-orang yang memiliki grit tidak menyerah meskipun menghadapi kegagalan berkali-kali, melainkan terus berusaha hingga tujuan tercapai.
Pepatah Arab mengajarkan hal yang sama: "Man jadda wajada" (Barang siapa bersungguh-sungguh, dia akan berhasil). Pesan ini mengingatkan bahwa keberhasilan membutuhkan kerja keras dan kesungguhan, bukan sekadar mengandalkan keberuntungan.
Sementara itu, filosofi Jawa juga menekankan pentingnya endurance melalui pepatah "Alon-alon asal kelakon" (Pelan-pelan asal terlaksana). Prinsip ini menanamkan nilai ketekunan dan kehati-hatian dalam mencapai tujuan besar.
Strategi Membangun Karakter Berendurance Tinggi
Untuk membangun endurance sebagai karakter bangsa, diperlukan perubahan pola pikir, pendidikan, dan kebijakan strategis:
1. Edukasi Nilai Endurance
Sistem pendidikan harus mengajarkan nilai ketekunan dan konsistensi sejak usia dini. Anak-anak perlu diajarkan bahwa keberhasilan adalah hasil dari proses, bukan keajaiban instan.
2. Revisi Narasi Budaya
Cerita lokal perlu diadaptasi untuk menekankan pentingnya proses panjang. Misalnya, kisah Sangkuriang bisa dikembangkan menjadi pelajaran tentang konsekuensi buruk dari keinginan instan.
3. Adopsi Filosofi Kaizen
Pemerintah dan sektor swasta dapat mengadopsi pendekatan perbaikan berkelanjutan untuk berbagai proyek. Fokus pada langkah-langkah kecil yang konsisten akan menghasilkan dampak besar dalam jangka panjang.
4. Kampanye Nasional
Dibutuhkan kampanye yang mendorong penghargaan terhadap proses, seperti slogan "Kerja kecil, berkelanjutan untuk hasil yang besar." Atau menggali filosofi dari budaya daerah yang mencerminkan metode kerja yang terus-menerus berkelanjutan seperti halnya kaizen. Ini akan membantu membangun kebanggaan terhadap usaha berkelanjutan.
5. Role Model Endurance
Publik perlu melihat contoh nyata dari tokoh-tokoh yang sukses melalui proses panjang. Kisah inspiratif ini bisa memotivasi masyarakat untuk menanamkan semangat endurance.
Penutup
Menggugat filosofi instan seperti Sangkuriang dan Roro Jonggrang adalah langkah awal untuk membangun karakter berendurance tinggi pada anak bangsa. Indonesia membutuhkan pola pikir yang menghargai proses panjang dan konsistensi, sebagaimana ditunjukkan oleh filosofi Kaizen, Gründlichkeit, dan grit.
Sebagaimana kata pepatah Sunda, "Ulah kuméok méméh dipacok" (Jangan mengeluh sebelum berjuang). Pepatah Jawa menegaskan, "Sepi ing pamrih, rame ing gawe" (Tidak mengejar pamrih, tetapi giat bekerja). Dan pepatah Arab memperkuat: "Man zara’a hasada" (Barang siapa menanam, dia akan menuai).
Semua ini mengajarkan bahwa langkah kecil yang konsisten adalah jalan menuju keberhasilan besar. Endurance adalah kunci untuk masa depan bangsa yang lebih maju dan berkelanjutan.
Komentar
Posting Komentar