10 Fakta Mengejutkan Fenomena Omon-omon


Jangan-jangan kita ini masih banyak hanya omon-omon?

Istilah omon-omon muncul pada momen kampanye pilpres dan semakin populer karena banyak yang menggunakan istilah baru ini. Beragam penggunaan istilah ini pun muncul di publik. Ada yang menggunakan istilah tersebut untuk menunjukan suatu fenomena yang perlu dikritisi, ada yang menggunakannya sebagai candaan atau bahkan ada juga yang menggunakannya dengan tone menyindir pihak yang berseberangan.

Istilah omon-omon, kita batasi definisinya sebagai sebuah istilah untuk menggambarkan prilaku yang penuh retorika dan wacana besar, tetapi minim tindakan nyata. Kalau boleh menebak, awalnya istilah ini mungkin berasal dari kata omong-omong, lalu sedikit disamarkan dengan memberi aksen manja, sehingga keluarlah istilah omon-omon.

Sebagai sebuah pengembangan bahasa, harusnya istilah omon-omon dapat bersifat netral dan diterima sebagai kekayaan bahasa untuk mengungkapkan fenomena di masyarakat. Karena dari sekian jumlah manusia dengan berbagai keunikan karakternya, pasti ada di dalamnya yang pandai bertutur kata tapi ketika diminta untuk melakukan tindakan, malah lebih banyak magernya. Alias hanya omon-omon saja.   

Pa Prabowo secara tidak langsung sudah mewarning untuk hati-hati dengan fenomena omon-omon, dan tentu saja narasi tersebut, jangan hanya kencang saat kampanye saja, tapi harus menjelma dalam semangat pemerintahan. Tidak boleh ada prilaku di pemerintahannya yang puas sebatas omon-omon, tapi harus benar-benar menjelma menjadi kerja nyata untuk masyarakat.

Istilah omon-omon, bahkan bukan hanya bisa digunakan untuk  individu, tetapi dengan bantuan tool AI, omon-omon juga bisa dikembangkan untuk menganalisis sebuah fenomena bangsa. Apakah sebuah bangsa masuk kategori bangsa omon-omon atau tidak. Bangsa di sini bersifat umum sehingga bisa bangsa apa saja. Lalu, bagaimana cara menilai apakah suatu bangsa masuk kategori omon-omon atau tidak? Berikut adalah 10 kriteria yang dikembangkan dengan bantuan AI yang bisa digunakan sebagai indikator.


  1. Kaya Sumber Daya Alam, Tapi Sulit Maju
    Sebuah bangsa yang memiliki tambang emas, minyak, gas, batu bara, perkebunan dan hutan  luas, laut kaya ikan seharusnya bisa cepat maju. Namun, jika PDB per kapitanya masih di kisaran $5.000, sementara negara tetangganya yang lebih kecil dan bahkan ada yang minim sumber daya sudah mencapai $12.000, $40.000, bahkan $80.000, maka ini seperti orang yang memiliki ladang emas, tetapi tetap hidup pas-pasan. Jika ada bangsa seperti ini, hati-hati jangan-jangan bangsa ini lebih banyak omon-omon daripada aksi nyata. Walaupun analisis berikutnya bisa dilakukan, misalnya sebenarnya bangsa tersebut adalah bangsa pekerja keras, tapi karena ketidakadilan, atau belenggu kekuatan luar, yang membuatnya tidak maju. Bukan karena bangsanya yang omon-omon. Bisa saja membuat indikator omon-omon menjadi tidak  berlaku.

    Analisis:

    • Dinyatakan omon-omon: Jika potensi alam yang besar tidak menghasilkan peningkatan kesejahteraan nyata, maka retorika kemajuan itu hanya sebatas omon-omon.
    • Tidak omon-omon: Jika ada upaya nyata untuk mengelola dan memanfaatkan potensi alam demi peningkatan kesejahteraan rakyat.
  2. Perlindungan bagi kaum yang lemah.
    Setiap bangsa selalu berbicara soal perlindungan terhadap kaum yang lemah. Tapi apakah narasi itu real atau hanya omon-omon saja? Salah satu cara analisisnya, coba perhatikan perlindungan pada pekerja rumah tangga di negara tersebut. Apakah mereka bekerja tanpa batas waktu jam kerja, tanpa hari libur, dengan gaji rendah, dan tanpa perlindungan hukum yang jelas? Jika jawabannya ya, hati-hati, jargon perlindungan kaum lemah yang terdengar megah itu, jangan-jangan baru omon-omon saja. Buktinya yang ada di depan mata saja belum dilindungi dengan benar, misalnya dengan membuat undang-undang pekerja rumah tangga.

    Analisis:

    • Dinyatakan omon-omon: Jika kenyataan menunjukkan bahwa pekerja seperti ART tidak mendapatkan perlindungan yang dijanjikan, maka retorika perlindungan tersebut hanya sebatas omon-omon.
    • Tidak omon-omon: Jika terdapat implementasi kebijakan nyata yang memberikan perlindungan dan kesejahteraan bagi kaum lemah seperti pekerja rumah tangga.
  3. Hukum sebagai Panglima
    Setiap bangsa pasti mengklaim menjunjung tinggi hukum. Tapi bagaimana jika kesadaran masyarakatnya masih percaya bahwa kasus hukum bisa diselesaikan dengan uang? Jika suap dalam peradilan adalah hal dipercaya publik, jika hukum tajam ke bawah tapi tumpul ke atas, maka ini seperti api yang menyala karena ada asap—di mana ada asap, di situ pasti ada api.

    Analisis:

    • Dinyatakan omon-omon: Bila praktik hukum di lapangan menunjukkan adanya diskriminasi, penyelesaian kasus dengan uang dan perbedaan perlakuan antara elit dan rakyat, maka klaim negara hukum tersebut hanyalah omon-omon.
    • Tidak omon-omon: Jika sistem hukum berjalan secara adil dan transparan tanpa diskriminasi.
  4. Klaim pendidikan penting
    Setiap bangsa pasti mengklaim bahwa pendidikan adalah penting dan menjadi hak dasar setiap warga negara. Namun, mari kita lihat realita yang ada di negara tersebut. Apakah benar pendidikan berkualitas bisa diakses oleh semua kalangan dengan merata dan mudah, atau baru orang kaya saja yang mudah mendapatkan pendidikan berkualitas? Jika masih banyak sekolah yang kualitasnya buruk, fasilitas minim, kesejahteraan guru kurang diperhatikan, dan akhirnya yang bisa menikmati pendidikan berkualitas hanya mereka yang mampu membayar sekolah swasta mahal, dan ketika dicek anggaran belanja pemerintah di sektor pendidikan malah banyak belanja untuk akomodasi hotel, perjalanan, atk, sistem informasi tidak jelas dan lain-lain belanja yang tidak menyentuh langsung untuk sekolah dan kesejahteraan guru, maka kita harus hati-hati, jangan-jangan, jargon pendidikan penting baru sebatas omon-omon saja.

    Analisis:

    • Dinyatakan omon-omon: Jika realita menunjukkan ketidakmerataan akses dan kurangnya perhatian terhadap kualitas pendidikan serta kesejahteraan guru, maka retorika pendidikan penting itu hanya omon-omon.
    • Tidak omon-omon: Jika ada kebijakan konkret yang memastikan pendidikan berkualitas dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.
  5. Klaim kesehatan untuk semua
    Negara sering mengumandangkan bahwa kesehatan adalah hak dasar setiap warga. Namun, mari kita perhatikan kenyataan di lapangan. Apakah layanan kesehatan yang dijanjikan benar-benar bisa diakses oleh seluruh lapisan masyarakat dengan mudah dan merata, atau hanya mereka yang mampu membayar biaya tinggi yang bisa mendapatkan perawatan layak? Bila banyak warga kesulitan mengakses layanan karena biaya yang tak terjangkau, fasilitas yang minim, antrean panjang, serta kesejahteraan tenaga medis yang diabaikan, maka slogan kesehatan untuk semua itu terasa hampa. Jangan-jangan, janji tersebut cuma omon-omon saja.

    Analisis:

    • Dinyatakan omon-omon: Jika akses layanan kesehatan terbatas oleh biaya dan fasilitas yang kurang memadai, maka retorika kesehatan hanya sebatas omon-omon.
    • Tidak omon-omon: Jika layanan kesehatan telah direalisasikan secara merata dan dapat diakses oleh seluruh masyarakat.
  6. Klaim antikorupsi
    Sering terdengar janji bahwa korupsi akan diberantas dengan tegas. Namun, bila kasus korupsi terus terjadi, dengan pejabat yang terbukti melakukan korupsi mendapatkan hukuman ringan atau bahkan dengan cepat bisa kembali menduduki posisi penting, maka komitmen antikorupsi itu harus dipertanyakan. Jangan-jangan, retorika antikorupsi itu hanya omon-omon belaka.

    Analisis:

    • Dinyatakan omon-omon: Jika penegakan hukum terhadap korupsi tidak konsisten dan cenderung berpihak pada elit, maka retorika ini hanyalah omon-omon.
    • Tidak omon-omon: Jika sistem antikorupsi dijalankan dengan tegas, adil, dan menyentuh semua lapisan tanpa diskriminasi.
  7. Klaim transportasi publik yang maju
    Negara mengumandangkan transportasi publik yang efisien dan nyaman sebagai solusi mobilitas masyarakat. Namun, apakah transportasi umum yang dijanjikan benar-benar tepat waktu, fasilitasnya memadai, dan tarifnya terjangkau? Bila kenyataannya transportasi umum sering terlambat, fasilitasnya minim, dan tarifnya memberatkan sehingga masyarakat tetap harus bergantung pada kendaraan pribadi, maka janji tersebut tidak lebih dari sekadar wacana. Jangan-jangan, janji itu cuma omon-omon saja.

    Analisis:

    • Dinyatakan omon-omon: Jika implementasi transportasi publik tidak mampu memberikan solusi mobilitas yang nyata, maka retorika tersebut hanya omon-omon.
    • Tidak omon-omon: Jika ada perbaikan nyata pada layanan transportasi publik yang meningkatkan kenyamanan dan aksesibilitas masyarakat.
  8. Klaim kemandirian pangan
    Slogan kemandirian pangan sering diungkapkan sebagai bukti kedaulatan. Namun, jika pada kenyataannya negara yang memiliki potensi pertanian besar harus bergantung pada impor bahan pangan pokok, serta petani kesulitan mendapatkan keuntungan yang layak karena harga pupuk yang tinggi dan kebijakan yang kurang mendukung, maka retorika tersebut tidak berakar pada kenyataan. Jangan-jangan, janji kemandirian pangan itu cuma omon-omon saja.

    Analisis:

    • Dinyatakan omon-omon: Jika kemandirian pangan tidak terealisasi dan ketergantungan impor tetap tinggi, maka retorika tersebut hanyalah omon-omon.
    • Tidak omon-omon: Jika kebijakan mendukung petani dan mengoptimalkan potensi pertanian secara nyata sehingga pangan dalam negeri terpenuhi.
  9. Klaim kebebasan berpendapat
    Dijamin bahwa setiap warga memiliki hak untuk menyuarakan pendapat tanpa takut akan pembalasan. Namun, bila kritik terhadap pemerintah atau kebijakan tertentu selalu direspons dengan ancaman hukum, intimidasi, atau tekanan sosial sehingga membuat masyarakat ragu untuk bersuara, maka jaminan kebebasan berpendapat itu terasa kosong. Jangan-jangan, janji kebebasan berpendapat itu cuma omon-omon saja.

    Analisis:

    • Dinyatakan omon-omon: Jika kebebasan berpendapat dibatasi oleh ancaman hukum atau intimidasi, maka retorika tersebut tidak merefleksikan kenyataan.
    • Tidak omon-omon: Jika warga benar-benar bebas menyuarakan pendapat tanpa takut akan konsekuensi negatif.
  10. Klaim pembangunan infrastruktur untuk rakyat
    Pembangunan infrastruktur sering dijadikan bukti kemajuan. Namun, bila proyek-proyek besar seperti jalan tol, bandara, dan gedung megah tidak diiringi dengan peningkatan kesejahteraan rakyat—misalnya kesulitan mendapatkan pekerjaan atau naiknya harga kebutuhan pokok—maka janji tersebut tampak kosong. Jangan-jangan, retorika pembangunan untuk rakyat itu cuma omon-omon semata.

Analisis:

  • Dinyatakan omon-omon: Jika pembangunan infrastruktur tidak memberikan dampak positif pada kehidupan rakyat, maka retorika tersebut hanya omon-omon.
  • Tidak omon-omon: Jika proyek infrastruktur berhasil meningkatkan kesejahteraan dan akses ekonomi masyarakat.

Dengan menggunakan analisis 10 indikator omon-omon diatas,  kita bisa menilai, dimana sebenarnya posisi bangsa ini.  Apakah masih banyak omon-omon saja atau sudah berhasil membuktikan  dengan aksi nyata yang membawa perubahan positif bagi masyarakat. Jangan hanya omon-omon saja !!!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengaku Peduli Lingkungan? Ujian Sesungguhnya Ada di Kebiasaanmu!

WALAU BUKAN LASKAR PELANGI (KISAH NYATA YANG DITULIS BERSAMBUNG)

Ketika Teguran Tak Lagi Didengar: Membangun Disiplin Sekolah yang Komunikatif