Menuju Indonesia Emas Berperadaban Pemenang : Karakter Adalah Kunci

Karakter seseorang terbentuk melalui interaksi yang kompleks antara pola pikir, kebiasaan, pengalaman hidup, dan lingkungan sosial. Pola pikir (mindset) memang menjadi fondasi penting, sebagaimana dijelaskan oleh Carol Dweck dalam teorinya tentang growth mindset—di mana cara seseorang memandang tantangan dan kegagalan sangat memengaruhi kemampuannya untuk berkembang. Namun, perubahan karakter bukanlah proses linier. Kebiasaan, sebagaimana dikaji oleh Charles Duhigg dalam The Power of Habit, terbentuk melalui pengulangan perilaku yang dipicu oleh isyarat (cue), dilanjutkan dengan rutinitas, dan ditutup dengan imbalan (reward). Di atas semua itu, sistem nilai internal dan konteks eksternal seperti tekanan sosial, budaya organisasi, dan kebijakan publik turut membentuk perilaku dan, pada akhirnya, menjadi karakter.

Karakter bangsa adalah akumulasi dari karakter individu-individu yang hidup di dalamnya. Karakter tidak lahir secara instan, melainkan melalui proses pembelajaran yang dinamis, penuh pembiasaan, keteladanan, dan refleksi. Ia bukan hanya buah dari pemikiran, tetapi juga tindakan nyata yang terus-menerus dikembangkan dalam keseharian. Dalam jangka panjang, bangsa yang memiliki karakter kuat akan mampu bertahan, berkembang, dan memimpin dalam percaturan global.

Namun, untuk menjadi bangsa yang hebat dan berperadaban pemenang, masih banyak pekerjaan rumah dalam membangun karakter masyarakat Indonesia. Saat ini masih terdapat banyak karakter negatif yang perlu dikikis secara sistematis, diantaranya :
1. Bidang Sosial
  • Malas dan tidak disiplin
Masih banyak masyarakat yang belum menghargai waktu dan tidak menjadikan produktivitas sebagai budaya hidup.
  • Premanisme
Kekerasan dan intimidasi masih menjadi solusi jalan pintas dalam konflik sosial.
  • Kurangnya empati sosial
Budaya gotong royong perlahan memudar tergantikan oleh sikap individualisme.
2. Bidang Ekonomi
  • Tidak kreatif dan konsumtif
Budaya konsumtif masih mendominasi, sementara kemampuan inovatif belum digerakkan secara luas.
  • Integritas pelayanan yang terkikis
Praktik transaksional dalam pelayanan publik di level akar rumput melemahkan budaya integritas dan menghambat pertumbuhan kewirausahaan lokal.
3. Bidang Politik
  • Money politics
Politik transaksional mengakar kuat dan merusak sistem demokrasi.
  • Korupsi dan oligarki
Kekuasaan dan kekayaan hanya berputar di kalangan tertentu, menciptakan ketimpangan dan frustrasi sosial.
  • Apatisme politik
Ketidakpedulian warga terhadap proses politik melemahkan legitimasi kepemimpinan dan memperkuat oligarki. 

 

Tanpa bermaksud mengagungkan bangsa lain, beberapa contoh bangsa di dunia, bisa menjadi pembelajaran dari keberhasilan membangun karakter bangsa. 
1. Jepang
Pasca-Perang Dunia II, Jepang membangun kembali bangsanya dengan karakter disiplin tinggi, kerja keras, tanggung jawab, dan kesadaran kolektif. Budaya malu (giri) menjadi kontrol sosial yang kuat terhadap perilaku menyimpang. 
 
2. Finlandia
Negara ini berhasil membangun karakter warga yang jujur, berintegritas, dan berpikir kritis. Sistem pendidikannya menjadi salah satu yang terbaik di dunia karena mengedepankan pembentukan karakter sejak dini, bukan hanya mengejar nilai akademis.
 
3. Korea Selatan
 Bangkit dari keterpurukan ekonomi, Korea Selatan menumbuhkan etos kerja tinggi, nasionalisme, dan kreativitas dalam budaya pop dan teknologi yang kini mendunia.
4. Uni Emirat Arab (UEA)
UEA menunjukkan keberhasilan membangun karakter bangsa modern melalui kepemimpinan visioner, efisiensi birokrasi, dan budaya kerja progresif. Visi nasional jangka panjang seperti UAE Centennial 2071 mencerminkan bangsa yang berorientasi masa depan. Karakter inovatif, disiplin dalam eksekusi, serta keterbukaan terhadap keberagaman budaya menjadikan UEA pusat pertumbuhan ekonomi dan teknologi di kawasan Arab. Kampanye nasional seperti Year of Tolerance menunjukkan keseriusan dalam membentuk masyarakat yang inklusif dan beradab.


Rekomendasi Menuju Indonesia Emas 2045
1. Revitalisasi Pendidikan Karakter
Pendidikan formal dan nonformal harus mengutamakan pembentukan karakter, bukan hanya capaian akademik. Penanaman nilai integritas, disiplin, tanggung jawab, dan empati harus dimulai sejak usia dini.
2. Keteladanan dari Pemimpin
Pemimpin di semua level harus menjadi contoh nyata karakter baik. Integritas, kejujuran, dan keberpihakan pada rakyat harus ditunjukkan secara konsisten dalam kebijakan maupun tindakan.
3. Reformasi Budaya Organisasi Publik dan Swasta
Budaya kerja harus dibangun atas dasar profesionalisme, akuntabilitas, dan pelayanan. Budaya “asal bapak senang” harus diganti dengan budaya perbaikan berkelanjutan (Kaizen) yang membumi.
4. Gerakan Nasional Karakter Bangsa
Perlu gerakan masif dan kolaboratif lintas sektor untuk membangun budaya baru: anti korupsi, anti kekerasan, dan cinta ilmu pengetahuan. Media, agama, dan tokoh masyarakat harus dilibatkan sebagai agen perubahan.
5. Distribusi Keadilan Sosial dan Ekonomi
Pemerataan akses terhadap pendidikan, kesehatan, pekerjaan, dan teknologi sangat penting agar semua lapisan masyarakat bisa berkembang dan berkontribusi secara optimal.

 

Karakter bangsa bukan sesuatu yang diwariskan, tetapi dibentuk—dengan kesadaran kolektif, sistem yang mendukung, dan komitmen jangka panjang. Indonesia emas bukan sekadar cita-cita, tetapi amanah sejarah yang hanya bisa dicapai dengan kerja keras membentuk manusia-manusia unggul, berintegritas, dan berperadaban. Bangsa pemenang lahir dari masyarakat yang berani mereformasi dirinya sendiri—mulai dari karakter.
Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”(QS. Ar-Ra’d: 11)
Perubahan besar selalu dimulai dari dalam—dari niat, tekad, dan kebiasaan baru yang lebih baik. Seperti yang pernah disampaikan oleh Buya Hamka:
“Bangsa yang besar dimulai dari manusia-manusia yang berakhlak besar.”
Karakter bukan hanya jalan menuju kemajuan, tapi fondasi untuk membangun peradaban yang unggul dan bermartabat.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengaku Peduli Lingkungan? Ujian Sesungguhnya Ada di Kebiasaanmu!

WALAU BUKAN LASKAR PELANGI (KISAH NYATA YANG DITULIS BERSAMBUNG)

Ketika Teguran Tak Lagi Didengar: Membangun Disiplin Sekolah yang Komunikatif